Makalah Kelompok 8 Manyambut Anak Lahir
Dosen Pengampuh : Dr. Zainal Efendi Hasibuan M.A
Nama : Rina karimah (1720100103)
Yuliana Pasaribu (1720100055)
Kelompok : Delapan (8)
Ruang : PAI-4
A. Pembahasan
Kedukan Anak Pada Budaya Tapanuli
Menurut kepercayaan masyarakat Batak Toba, asal orang Batak Toba dimulai dari Si Raja Batak (leluhur orang batak) yang bermukim di Kaki Pusuk Buhit, terletak di sebelah barat Pulau Samosir. Si Raja Batak mempunyai 2 (dua) orang putra yakni Guru Tatean Bulan dan Si Raja Isumbaon. Guru Tatean Bulan mempunyai 4 (empat) orang putra yakni Saribu Raja, Limbong Mulana, Sagala Raja dan Malau Raja. Sementara Si Raja Isumbaon mempunyai 3 (tiga) orang putra yakni Tuan Sorimangaraja, Si Raja Asiasi, dan sungkar Somalindang.
Masyarakat Tapanuli menganut sistem kekerabatan patrilinieal. Orang mempunyai marga (nama keluarga) yang biasanya dicantumkan diakhir namanya. Nama marga ini diperoleh dari garis keturunan ayah (patrilineal) yang selanjutnya akan diteruskan kepada keturunannya secara terus menerus.[1]
Aspek Kehidupan Tapanuli dikelompokkan dalam 9 (sembilan) nilai budaya kekerabatan, yaitu:
1. Kekerabatan yang mencakup hubungan kasih sayang atas dasar hubungan darah, kerukunan unsur-unsur Dalihan Na Tolu. Dalihan Natolu merupakan ikatan kekerabatan adat istiadat pada masyarakat Tapanuli. Falsafah adat Dalihan Natolu yakni Somba Marhulahula (hormat pada pihak keluarga ibu/istri), Elek Marboru (ramah pada keluarga saudara perempuan) dan Manat Mardongan Tubu (kompak dalam hubungan semarga). Dalam kehidupan sehari-hari, falsafah ini dipegang teguh dan hingga kini menjadi landasan kehidupan sosial dan bermasyarakat di lingkungan orang Tapanuli.
2. Religi, mencakup kehidupan keagamaan, baik agama tradisional maupun agama yang datang kemudian yang mengatur hubungannya dengan Maha Pencipta serta hubungannya dengan manusia dan lingkungan hidupnya.
3. Hagabeon, banyak keturunan dan panjang umur. Satu ungkapan tradisional Batak Toba yang terkenal yang disampaikan pada saat upacara pernikahan adalah ungkapan yang mengharapkan agar kelak pengantin baru dikaruniakan putra 17 dan putri 16. Sumber daya manusia bagi orang Batak sangat penting. Kekuatan yang tangguh hanya dapat dibangun dalam jumlah manusia yang banyak. Mengenai umur panjang dalam konsep hagabeon disebut Saur Matua Bulung (seperti daun, yang gugur setelah tua). Dapat dibayangkan betapa besar pertambahan jumlah tenaga manusia yang diharapkan oleh orang Batak, karena selain setiap keluarga diharapkan melahirkan putra-putri sebanyak 33 orang, juga semuanya diharapkan berusia lanjut.
4. Hasangapon, kemuliaan, kewibawaan, kharisma, suatu nilai utama yang member dorongan kuat untuk meraih kejayaan.
5. Hamoraon, kaya raya salah satu nilai budaya yang mendasari dan mendorong orang Batak Toba atau Tapanuli untuk mencari harta benda yang banyak.
6. Hamajuon, kemajuan yang diraih melalui merantau dan menuntut ilmu. Nilai budaya hamajuon ini sangat kuat mendorong orang Batak Toba bermigrasi ke seluruh pelosok tanah air.
7. Hukum, nilai hukum (patik dohot dan uhum), budaya menegakkan kebenaran, merupakan budaya yang harus dipegang oleh Batak Toba.
8. Pengayoman, dalam kehidupan sosio-kultural orang Batak Toba kurang kuat dibandingkan dengan nilai-nilai yang disebutkan terdahulu. Hal ini mungkin disebabkan kemandirian yang berkadar tinggi. Kehadiran pengayoman, pelindung, pemberi kesejahteraan, hanya diperlukan dalam keadaan yang sangat mendesak.
9. Konflik, sumber konflik pada orang Batak Toba atau Tapanuli menyangkut perjuangan meraih hasil nilai budaya lainnya. Antara lain hamoraon yang mau tidak mau merupakan sumber konflik yang abadi bagi orang Batak Toba.[2]
Jenis upacara adat Tapanuli dimulai dari masa dalam kandungan, kelahiran, penyapihan, penyakit, malapetaka, hingga kematian. Peralihan dari setiap tingkat hidup ditandai dengan pelaksanaan suatu upacara adat khusus.
Upacara adat dilakukan agar terhindar dari bahaya/ celaka yang akan menimpa, memperoleh berkat, kesehatan dan keselamatan. Inilah salah satu prinsip yang terdapat di balik pelaksanaan setiap upacara adat suku Tapanuli.
Beberapa upacara adat antaranya: mangganje (kehamilan), mangharoan (kelahiran), martutu aek dan yang dijumpai pada masyarakat Tapanuli di mampe goar (permandian dan pemberian nama), manulangi (menyulangi), hamatean (kematian), dan mangongkal holi (menggali tulang belulang).
a. Upacara Kehamilan (Mangganje)
Sebelum si Ibu melahirkan, orangtua dari si Ibu sebaiknya memberikan makanan adat batak berupa ikan batak jenis ikan Mahseer dari genus Tor (Dekke Jurung-jurung) dan ulos tondi dengan tujuan agar si Ibu sehat-sehat pada waktu melahirkan dan anak yang akan dilahirkan menjadi anak yang berguna bagi nusa dan bangsa serta pada sanak saudara. Jika waktu untuk melahirkan sudah tiba sanak saudara memanggil “Si Baso” (dukun). Dukun beranak akan memberikan obat agar si Ibu tidak susah untuk melahirkan yang disebut salusu. Salusu adalah satu butir telur ayam kampung yang terlebih dahulu didoakan, selesai didoakan dihembus, kemudian dipecah lalu diberikan kepada si ibu untuk ditelan.
b. Upacara Kelahiran (Mangharoan)
Setelah si Ibu melahirkan si baso mematok tali pusat bayi dengan sisik bambu yang tajam dengan beralaskan buah ubi rambat dengan ukuran 3 jari bayi. Kemudian penanaman ari-ari bayi menurut orang Batak Toba biasa ditanam di tanah yang becek (sawah). Ari-ari dimasukkan dalam tandok kecil yang dianyam dari pandan bersama dengan 1 biji kemiri, 1 buah jeruk purut dan 7 lembar daun sirih. Setelah bayi lahir si dukun memecahkan kemiri dan mengunyahnya kemudian memberikannya kepada bayi dengan tujuan untuk membersihkan kotoran yang dibawa bayi dari kandungan sekaligus membersihkan perjalanan pencernaan makanan yang pertama yang disebut tilan (kotoran pertama).
c. Upacara Permandian dan Pemberian Nama (Martutu aek)
Upacara yang dilakukan di rumah yang mendapat kelahiran seorang anak, atau pemberian nama kepada anak. Upacara ini dilakukan pada hari ketujuh setelah bayi lahir, dalam acara inilah sekaligus pembuatan nama yang disebut dengan pesta martutu aek yang dipimpin oleh pimpinan agama yaitu ulu punguan.
d. Upacara Menyulangi/Memberi Makan (Manulangi)
Sebelum orang mati, upacara adat yang dilakukan oleh keturunannya dinamai “manulangi” (memberi makan, menyulangi). Upacara ini bertujuan untuk mempersiapkan seorang yang sudah tua dan diperkirakan tidak lama lagi akan meninggal, sehingga jika orang tersebut sudah meninggal rohnya dapat memasuki persekutuan dengan roh-roh leluhurnya dengan selamat. Upacara ini dilakukan kepada seseorang yang akan meninggal dalam dalam kondisi minimal sarimatua (telah memiliki cucu laki-laki dan perempuan).
e. Upacara Kematian (Hamatean)
Upacara kematian dibagi dalam dua tahap. Pertama adalah pengurasan jenazah menjelang pemakaman, kedua adalah pasahat tondi. Pemberangkatan jenazah dipimpin oleh Ihutan atau Ulupunguan dengan u pacara doa “Borhat ma ho tu habangsa panjadianmu”, artinya berangkatlah engkau ke tempat kejadianmu. Satu minggu setelah pemakaman, keluarga yang ditinggal mengadakan pangurason di rumah. Satu bulan setelah pemakaman, dilanjutkan dengan Upacara Pasahat Tondi yaitu upacara mengantar roh dalam hati harfiah.
Dalam tradisi Tapanuli, orang yang meninggal perlakuan khusus, dalam sebuah upacara adat kematian. Upacara adat kematian akan mengalami tersebut diklasifikasi berdasarkan usia dan status orang yang meninggal.
f. Upacara Menggali Tulang-Belulang (Mangokal Holi)
Dalam adat Tapanuli, status kehormatan yang dimiliki oleh suatu roh tidaklah bersifat statis. Status dan kehormatan dapat ditingkatkan lagi lebih ke atas. Peningkatan kemuliaan akan didapatkan oleh roh itu apabila dia memiliki status “sumangot”. Status sumangot akan dimilikinya apabila para keturunannya telah membuatkan sebuah makan permanen yang dipahat dari batu atau dibuat dari semen yang kemudian dihiasi dengan keramik dengan segala kemegahannya.
Menurut fungsinya dalam upacara adat Tapanuli dikenal bermacam-macam ulos dengan kegunaannya, antara lain:[3]
a). Ulos Tondi. Ulos yang dipakaikan kepada seorang calon ibu yang mengandung tujuh bulan bayi pertamanya. Dengan dipakaikan ulos tondi ini, diharapkan bayi itu lahir dengan selamat. Ulos tondi adalah jaminan keselamatan ibu dan bayi.
e). Ulos Tujung. Ulos yang diberikan kepada seorang perempuan yang suaminya baru meninggal, dikenakan selama jangka waktu tertentu.
f). Ulos Holong. Ulos yang diberikan kepada anak yang baru lahir setelah proses pemandian.
B. Upacara Anak Lahir
Pembahasan tentang sistem pemerintahan di Tapanuli Selatan menunjukkan bahwa dalam kehidupannya, masyarakat Tapanuli Selatan selalu menjunjung tinggi musyawarah mufakat dengan seluruh anggota masyarakat yang ada. Raja sebagai pemimpin hanyalah simbol bagi berdirinya sebuah kampung yang beradat. Raja tidak pernah memutuskan sebuah perkara menurutnya pemikiran dan pendapatnya sendiri tetapi harus berdasarkan Dalihan Natolu. Kekuasaan sejatinya adalah milik masyarakat.[4]
Upacara kelahiran bayi menunjukkan bahwa betapa berartinya kelahiran seorang anak manusia di bumi Tapanuli Selatan, sehingga sejak dikandungpun selalu diingat melalui mimpi-mimpi yang dapat ibunya. Dari dulu hingga sekarang, seorang anak begitu dipuja kedatangannya, sehingga semua orang tua menggantungkan harapannya pada anak. Tak jarang, mereka rela hidup seadanya agar dapat memberikan yang terbaik bagi anaknya, seperti misalnya pendidikan. Beberapa contoh kemajuan yang telah dicapai oleh masyarakat Tapanuli Selatan adalah peningkatan sumber daya manusia di bidang pendidikan. Bagi masyarakat Tapanuli Selatan, anak adalah harta yang paling berharga. Walaupun hidup seadanya, kelahiran anak tetap harus disambut dengan acara adat, meskipun hanya sederhana.
Masa kanak-kanak di Tapanuli Selatan juga dibekali dengan berbagai pengetahuan, tidak saja pengetahuan agama tetapi juga adat, budaya dan keahlian khusus. Hal ini menunjukkan bahwa setiap anak diharapkan mampu berdiri sendiri setelah dewasa dan dapat berguna bagi masyarakat dan agama melalui apa yang dipelajarinya sejak kecil. Nilai-nilai moral, sosial dan adat telah ditanamkan sejak kanak-kanak di Tapanuli Selatan, agar semua kekayaan lokal mereka tetap ada dan berkembang. Keahlian tersebut sampai sekarang dapat dilihat pada pameran-pameran produk lokal Tapanuli Selatan , bahkan menarik minat asing untuk di ekspor keluar negeri. Yang menarik, anak-anak Tapanuli Selatan sejak kecil telah mahir berenang dan latihannya hanya di sungai-sungai yang ada di kampung mereka. Tak heran, salah satu atlit renang putri Indonesia terlahir dari daerah ini.
Orang batak selalu merasa bersatu dengan negerinya, yaitu tanah batak yang di sebut dengan istilah bona pasogit. Meski berbeda agama rasa persaudaraan itu tetap terasa dan terjaga karena sedarah ataupun karena dirajut diparmudaron. Dan dalam suatu adat batak sangat penting untuk memahami saudara samarganya untuk menjalin silaturahmi dan menjaga sikap terhadap kahanggi ataupun dengan saudara lainnya agar tidak terjadi perselisihan ataupun perpecahan di antaranya[5]
Proses terbentuknya sebuah huta adat di Tapanuli Selatan
mempunyai dua tahapan penting, yaitu pagaran menjadi huta dan huta menjadi huta
adat.
1. Pagaran menjadi huta, yaitu tahap
dibukanya sebuah kampung yang ditandai dengan dibangunnya rumah-rumah penduduk
secara bergotong royong dengan menempatkan bangunan-bangunan hunian tersebut
pada zona BanuaPartonga.
2. Huta menjadi huta adat, yaitu tahap
diresmikannya huta yang sudah memiliki perangkat adat yang lengkap menjadi huta
adat melalui horja.
C. Pandangan Islam Terhadap Anak Lahir
Dengan melakukan seluruh hak dan sunnah bayi yang baru lahir, ini dipercaya untuk melindungi bayi dari niat jahat setan, seperti yang dijelaskan di hadits. Berikut ini aturan Islam tentang bayi baru lahir yang harus dipenuhi.
1. Dikumandangkan azan dari orang tuanya.
2. Diberi nama baik dan bermakna
3. Aqiqah pada hari ketujuh kelahiran
4. Mencukur rambut
5. Sunat
6. Mendapatkan ASI
7. Diadopsi
8. Dikunjungi oleh keluarga.[6]
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Upacara adat dilakukan agar terhindar dari bahaya/ celaka yang akan menimpa, memperoleh berkat, kesehatan dan keselamatan. Inilah salah satu prinsip yang terdapat di balik pelaksanaan setiap upacara adat suku Tapanuli. Beberapa upacara adat antaranya: mangganje (kehamilan), mangharoan (kelahiran), martutu aek dan yang dijumpai pada masyarakat Tapanuli di mampe goar (permandian dan pemberian nama), manulangi (menyulangi), hamatean (kematian), dan mangongkal holi (menggali tulang belulang).
B. Saran
Demikianlah makalah kami yang telah kami susun tentunya dalam hal ini masih banyak kekurangan dan kesalahan, kami harap pemakalah atau teman-teman dapat menambah wawasan. Oleh karena itu, kritik dan saran sangat kami harapkan untuk perbaikan makalah yang selanjutnya.
[1] Bustanuddin, Agama dalam Kehidupan Manusia: Pengantar Antropologi Agama (Jakarta: Rajawali Perss, 2006), hlm. 54.
[2] Hans Daeng, Manusia, Kebudayaan dan Lingkungan (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012), hlm. 136.
[3] Sutan Tinggi Barani Perkasa Alam, Adat Budaya Batak Angkola, (Medan: CV. Partama
Mitra Sari, 2015), hal. 121
[4] Vergouwen, Masyarakat dan Hukum Batak Toba, ( Jakarta : Faud Mustafa, 2004), hlm. 213
[5] https://www.tabagsel.id/moderasi-dan-harmoni-beragama-dalam-surat-tumbaga-holing-batak-angkola/
[6] Koentjaraningrat, Manusia dan Kebudayaan di Indonesia (Jakarta: Djambatan, 2004), hlm. 75.
Komentar
Posting Komentar